Ilustrasi (Foto: jatimTIMES)
Ilustrasi (Foto: jatimTIMES)

Kabar tidak sedap datang dari lingkungan Mapolresta Pasuruan. Salah seorang oknum polisi di Satuan Reserse Kriminal diduga melakukan pemerasan kepada sebelas pemilik toko bangunan di Kota Pasuruan.

Dari data yang diterima TIMES Indonesia, dari sumber di internal Mabes Polri, Kamis (24/3/2016) malam, oknum polisi tersebut berinisial AIP. Ia diduga melakukan perbuatan tersebut tidak sendiri.

Dugaan tindak pemerasan tersebut bermula dari kegiatan razia yang dilakukan oleh polisi terhadap sebelas toko bangunan yang menjual besi beton.

Razia itu dilakukan untuk mengetahui adanya besi beton yang tidak sesuai dengan ketentuan Standar Nasional Indonesia (SNI). Seluruhnya ada sebelas toko yang razia.

Dari data yang diterima TIMES Indonesia, dari sebelas toko itu, polisi berhasil mengamankan sejumlah besi yang dinilai tak sesuai dengan ketentuan SNI yang berlaku.

Kasus dugaan pemerasan tersebut, kini sudah ditangani oleh Paminal Mabes Polri. Pihak Paminal Mabes Polri berhasil menyita barang bukti berupa uang senilai Rp 97 juta. Uang tersebut diduga hasil pemerasan kepada pemilik toko.

Sementara itu, dikonfirmasi kepada salah satu pemilik toko yang dirazia oleh oknum polisi membenarkan jika ada razia. Dalam razia tersebut, polisi menemukan besi beton yang dinilai tidak sesuai dengan SNI.

"Setelah menemukan besi yang dimaksud (tidak sesuai ketentuan SNI), pihak polisi melakukan penyitaan lima batangan besi per item," cerita salah satu pemilik toko, yang enggan disebutkan namanya, saat ditemui TIMES Indonesia, di kawasan Jalan Soekarno Hatta, Kamis (24/3/2016) malam.

Menurutnya, razia yang dilakukan polisi itu, terjadi pada awal Februari lalu. Namun, hingga kini belum ada tindak lanjut atas razia tersebut.

Akhirnya, ditemukan adanya dugaan tindak pemerasan oleh oknum polisi yang bertugas Satuan Reserse Kriminal Mapolresta Pasuruan terhadap beberapa toko yang terkena razia itu.

"Kalau saya tidak. Cuma saya tidak dipanggil dan saya sendiri yang mendatangi ke sana (ke Mapolresta Pasuruan)," aku pria berinisial TA itu.

Lebih lanjut TA membeberkan, bahwa diduga ada tujuh toko dari total sebelas toko yang diduga diperas oleh oknum polisi yang melakukan razia.

Sementara itu, pemilik toko lainnya, hingga kini masih belum berkenan berkomentar menyikapi kasus tersebut. "Pemilik toko lainnya masih takut mau komentar," kata TA.

Selanjutnya, setelah TIMES Indonesia mendapatkan data tersebut, terus mencoba melakukan konfirmasi kepada Kapolresta Pasuruan AKBP Yong Ferrydjon. Namun, hingga berita ini ditulis, upaya konfirmasi belum mendapatkan jawaban dari kedua pihak.

Dihubungi melalui telepon tak juga diangkat. Melalui Short Message Service (SMS) juga belum ada respon. Hal yang sama, upaya konfirmasi juga dilakukan kepada AIP. Tapi belm juga ada jawaban.(*)