Ketua F-PDIP DPRD Jatim, Sri Untari (foto : adi s/surabayaTIMES)
Ketua F-PDIP DPRD Jatim, Sri Untari (foto : adi s/surabayaTIMES)

Fraksi PDIP DPRD Jatim mengancam akan melaporkan Kadispendik Sidoarjo ke Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Anis Bawesdan jika tidak mengikutkan si anak jenius Pato Sayyaf dalam Ujian Nasional (UN) SD yang berlangsung pada Mei depan.

FPDIP Jatim memberikan deadline hingga April agar ada keputusan jika Pato bisa mengikuti UN.

Ketua F-PDIP DPRD Jatim, Sri Untari menegaskan seharusnya Dispendik Sidoarjo tidak mengorbankan siswa hanya karena anak itu belum cukup umur.

Seharusnya si Pato tetap dapat mengikuti UN, karena yang bersangkutan sudah mengikuti jenjang pendidikan mulai kelas 1 sampai 6, meski tidak sampai 6 tahun.

Sekolah tersebut dibuka kelas akselerasi yang artinya diperuntukan terhadap anak-anak yang pandai dalam akademiknya.

Pato mengikutinya hingga dia sampai kelas enam. Namun setelah Pato ingin mengikuti UN, ternyata Dispendik melarangnya dengan alasan usianya belum memenuhi.

“Dalam juklak dan juknis,tidak satupun pasal yang menyatakan usia peserta UN, yang ada hanyalah duduk di kelas 6 SD,” tegas Untari, di Gedung DPRD Jatim, Kamis (21/4/2016).

Fraksi PDIP minta kepada kader PDIP yang duduk di DPRD Kabupaten Sidoarjo untuk  mendesak  Bupati Sidoarjo, Saiful Illah  turun tangan  agar Pato bisa ikut UN.

Pasalnya, kabar terakhir diketahui jika Pato diminta duduk di kelas 5  atau turun satu tingkat dulu sebelum ikut UN.

FPDIP menilai keputusan itu tidak adil karena akan mempengaruhi psikologi. Pato adalah aset negara, dimana mereka harus dilindungi.    

Disisi lain, Sri Untari mempertanyakan kebijakan Dinas Pendidikan yang membiarkan SD Multiligual Anak Soleh Waru, Sidoarjo beroperasi selama 13 tahun dengan meluluskan tujuh lulusan.

Jika sekolah tersebut bodong seharusnya pihak Dindik langsung melakukan penyegelan. Tetapi ada pembiaran kalau Pato dilarang ikut UN.

“Kasihan 14 siswa lainya juga ikut terbawa masalah ini. Padahal yang salah adalah pihak sekolah, tetapi mengapa siswa dan orangtuanya yang kena getahnya,’’tanya Untari.(*)