Drs. Sutiaji dan Ir. Sofyan Edi Jarwoko setelah meresmikan Camp Assesment di dekat Desaku Menanti (Foto : Istimewa)
Drs. Sutiaji dan Ir. Sofyan Edi Jarwoko setelah meresmikan Camp Assesment di dekat Desaku Menanti (Foto : Istimewa)

Keberadaan gepeng dan anak jalanan kini menjadi perhatian serius Pemkot Malang. Melalui leading sector-nya Dinas Sosial, Pemkot Malang menyiapkan tempat khusus untuk identifikasi gepeng yang banyak berkeliaran di wilayah Kota Malang. 

Tempat ini diberi nama Camp Assesment. Pada Jumat (1/2/2019) camp yang terletak di Desaku Menanti atau yang lebih dikenal dengan Kampung Topeng ini mulai difungsikan setelah diresmikan pada tanggal 28 Desember 2018 oleh Wali Kota Malang Drs H Sutiaji dan Wakil Wali Kota  Malang Ir Sofyan Edi Jarwoko.

Camp assessment ini sementara hanya dapat menampung sekitar 50 Orang dengan rincian 25 orang laki-laki dan 25 perempuan. Secara bertahap tahun ini akan ditambah kapasitasinya hingga 200 Orang.

Ini merupakan program yang dicanangkan Dinas Sosial untuk melakukan proses identifikasi dan assesment kepada gepeng yang terjaring razia. 

Selanjutnya, Dinas Sosial yang telah bekerja sama dengan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Insan Sejahtera akan melakukan penanganan yang tepat kepada para gepeng yang telah terjaring razia sesuai hasil yang didapatkan dari proses identifikasi dan assesment.

"Yang pertama dilakukan yaitu assesment oleh psikolog. Kami berikan pertanyaan-pertanyaan seputar alasan mengapa turun ke jalan. Jika dia adalah anak sekolah yang berdomisili di Kota Malang maka akan langsung kami cari tempat tinggalnya. Lalu, dikembalikan ke orang tuanya dan kami imbau untuk melarang anaknya turun ke jalan lagi. Jika mereka berasal dari luar kota maka akan kami antarkan kembali ke kotanya," ujar Yuyun, salah satu perwakilan dari LKS Insan Sejahtera kepada MalangTIMES, Rabu (6/2/2019).

"Tetapi jika kita temukan anak yang putus sekolah maka akan kita carikan jalan keluarnya. Kita akan koordinasi dengan Dinas Pendidikan untuk mengajukan kejar paket. Jika dia tidak mampu melanjutkan sekolah maka kami tawari apakah mereka mau diberi keterampilan," lanjutnya.

Banyak keterampilan yang diajarkan LKS kepada para gepeng seperti memasak, menjahit, memotong rambut, dan membuat keripik. Setelah mereka mahir, mereka akan dicarikan tempat agar langsung terjun pada bidang yang dikuasainya.