Yuli Era menunjukkan foto jalan kecil yang ditutup dengan sesek bambu di jalan oleh keluarga Sanali  (Agus Salam/JatimTIMES)
Yuli Era menunjukkan foto jalan kecil yang ditutup dengan sesek bambu di jalan oleh keluarga Sanali (Agus Salam/JatimTIMES)

Saat dikonfirmasi terkait persoalan tersebut, Poni Cahyo Santoso yang memagar tembok di sisi barat rumah Sanali, tidak ada di rumahnya. Beberapa saat kemudian, dari rumahnya keluar seorang perempuan, menyodorkan kertas pernyataan. 

Isinya, pemberitahuan kepada Ketua RT RT 10 RW 9, kalau Poni akan membangun pagar di sisi barat rumah Sanali. Tujuannya, agar tidak terjadi pertengkaran lagi.

Surat tertanggal 18 Maret 2019 itu juga ditandatangani 10 warga yang setiap harinya lewat di gang sebelah barat rumah Sanali. Bahkan, surat pernyataan itu diketahui dan ditandatangani ketua RT setempat. Sedang Sanali dan keluarganya, tidak ikut tandatangan pernyataan tersebut. 

“Ini surat pernyataan persetujuan pembangunan pagar. Warga belakang semuanya setuju dan sudah tanda tangan,” ujar seorang perempuan yang kemudian masuk lagi ke rumahnya.

Sementara itu, Yulia Era (35) membenarkan kalau dirinya ikut tanda tangan. Perempuan yang biasa dipanggil Era ikut tandatangan, karena setuju dengan pembangunan pagar. Mengingat, keluarga Sanali sering bertengkar dengan warga di belakang rumahnya, termasuk Poni dan dirinya. “Sama keluarga pak Poni sering tengkar. Akhirnya gang ini dipagar. Setelah dipagar, enggak pernah tengkar lagi,” aku Era.

Sebenarnya lanjut Era, persoalan pemagaran adalah buntut atau akibat dari penutupan jalan kecil yang dilakukan keluarga Sanali. Sanali menutup jalan yang diklaim masih pekarangannya, sehingga 5 kepala keluarga, termasuk keluarga ER kesulitan keluar ke gang. “Katanya masih pekarangannya, sehingga ditutup. Kalau kami mau ke gang, yah harus jalan miring. Pak Poni juga tidak setuju, meski dia tidak lewat di jalan kecil itu. Ya, karena kasihan sama warga,” tandasnya.

Persoalan tersebut selesai, setelah ditengahi pihak kelurahan dan jalan yang ditutup dibuka hingga sekarang. Dijelaskan, jalan kecil untuk keluar masuk 5 KK itu ditutup, akibat keluarga Sanali bertengkar dengan Era. Pemicunya, perempuan beranak dua ini mengetahui keluarga Sanali memendam sesuatu (Mistis) di pekarangannya. “Sering memendam sesuatu dari dukun di pekarangan saya. Saya lihat dengan mata kepalaku sendiri,” aku Era.

Merasa tidak nyaman dengan ulah keluarga Sanali, Era kemudin berkonsultasi dengan orang pintar. Hasilnya, ia disarankan untuk menyiram pekarangannya dengan air limbah rumah tangga (Peceren), “Katanya kalau disiram air peceren, netral. Ilmunya tidak masuk ke keluarga kami. Terus mereka marah marah, karena bau katanya. Lalu saluran air ditutup. Akhirnya, kami buat saluran sendiri,” tandasnya,.

Di tempat yang sama, Sanali tetap pada pendirianya yakni, membongkar pagar, yang bearakibat orang tuanya tidak dapat keluar masuk rumahnya. Ia juga meminta saluran air limbah rumah tangga yang ditutup warga, dibuka kembali. Jika tuntutannya tidak dipenuhi, maka dirinya akan meneruskan persoalan tersebut ke kepolisian. “Ya, harus dibongkar. Kami kasihan pada orang tua. Rumah ini, ditempati orang tua dan adik-adik kami. Kami tinggal di tempat lain,” ujarnya.

Ia membenarkan kalau pernah menutup jalan kecil akses keluar masuk warga. Alasannya, jalan tersebut masih masuk pekarangannya. Selain itu, warga belakang rumahnya sering menyiram pekarangannya dengan air limbah pekarangan (Peceren) sehingga bau busuk mengganggu keluarganya. “Soal memendam sesuatu, kami tidak pernah melakukan. Itu hanya alasan mereka saja,” pungkasnya.