Kisah-Hidup-Mbah-Moedjair
ikan-mujair
asal-usul-ikan-mujair
Namun siapa sangka, ikan mujair pada mulanya ialah ikan air asin yang sengaja dikembangkan melalui percobaan habitat oleh seorang kakek tua yang berasal dari Dusun Papungan, Desa Kuningan, Kecamatan Kanigoro Blitar.
Nama ikan mujair sendiri diambil dari nama penemunya yaitu Mbah Moedjair, yang menemukan ikan ini pada tahun 1939 di Pantai Serang. Untuk menelusuri asal-usul Mbah Moedjair dan ikan temuannya tersebut kali ini BLITARTIMES berhasil menemui salah satu pegiat sejarah di Desa Papungan, Doni Widodo pada Kamis (12/9/2019).
"Menurut penuturan Mbah Ismoenir anak ke-5 dari Mbah Moedjair yang masih hidup mengatakan, awalnya Mbah Moedjair diajak Kepala Desa Papungan untuk acara tirakatan 1 Suro di Pantai Serang. Setibanya di Serang, di sebelah timur pantai tepatnya di muara sungai Mbah Moedjair menemukan ikan unik yang menyimpan telur di mulutnya. Terus beliau penasaran dan membawa ikan itu pulang," ungkapnya saat ditemui BLITARTIMES di rumahnya.
Melihat keunikan ikan ini, Mbah Moedjair berniat mengembangbiakkan ikan tersebut dirumahnya didaerah Papungan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar. Untuk mengambil ikan ini Mbah Moedjair menjaring dengan menggunakan kain Udeng (ikat kepala) yang biasa beliau pakai.
Dengan ditemani oleh 2 temannya yaitu Abdullah Iskak dan Umar, Mbah Moedjair membawa ikan ini pulang ke Desa Papungan.Tetapi karena habitat yang berbeda, maka ikan ini mati sewaktu dimasukkan ke air tawar yang berada di halaman rumah Mbah Moedjair di Papungan.
"Setelah melakukan percobaan tersebut, menurut penelusuran kami, Mbah Moedjair bukannya putus asa tetapi malah semakin gigih dalam melakukan percobaan dengan satu tujuan Spesies ikan ini dapat hidup di habitat air tawar. Habitat yang sangat berbeda dari aslinya yaitu air laut," ujarnya.
Doni menceritakan kegigihan Mbah Moedjair tersebut tidak berhenti pada percobaan itu saja. Beliau bolak balik Papungan – Serang yang berjarak 35 Km, berjalan kaki dengan melewati hutan belantara, naik turun bukit dan akses jalan yang sulit serta memakan waktu dua hari dua malam. Di Pantai Serang beliau mengambil spesies ikan ini dengan menggunakan Gentong yang terbuat dari tanah liat.
Saat itu, Mbah Moedjair juga melakukan percobaan dengan mencampurkan air laut yang asin dengan air tawar, terus menerus dengan tingkat konsentrasi air tawar semakin lama semakin lebih banyak dari air laut yang kemudian kedua jenis air yang berbeda ini dapat menyatu.
"Dari cerita Mbah Ismoer, percobaan tersebut menemui keberhasilan pada percobaan ke-11, yang berarti 11 kali perjalanan bolak balik Papungan-Serang. Pada percobaan ke-11 ini berhasil hidup 4 ekor ikan jenis baru ini dengan habitat air tawar," Sambung Doni.
Menurut catatan Pegiat Sejarah Desa Papungan ini, Keberhasilan Mbah Moedjair membawa ikan jenis baru ke kolam halaman rumahnya ini terjadi pada tanggal 25 Maret 1936.
Hal itu membuat nama Mbah Moedjair menjadi lekas terkenal. Dari satu kolam kemudian berkembang menjadi tiga. Ikan hasil budidayanya dibagi-bagikan ke tetangga dan sisanya di jual ke pasar dan dijajakan dengan sepeda kumbang. Dari situlah orang-orang sekitar pun menyebut ikan itu dengan sebutan ikan Mujair sesuai nama penemunya yakni Mbah Moedjair.
Berkat kegigihan Mbah Moedjair, Pemerintah Hindia Belanda, menurut harian Pedoman edisi 27 Agustus 1951, mengapresiasi usaha Moedjair membudidayakan ikan mujair dengan memberinya santunan sebesar Rp 6,- per bulan.
Saat pendudukan Jepang, ikan mujair kian populer. Pasukan Jepang, seperti tercatat dalam Tilapia: Biology, Culture, and Nutrition suntingan Carl D Webster dan Chhorn Lim, membawanya ke seluruh daerah untuk dibudidayakan dalam tambak-tambak. Moedjair pun diangkat sebagai pegawai negeri tanpa harus mendapat beban kerja.
Enam tahun setelah Indonesia merdeka, Moedjair menerima surat tanda jasa dari Kementerian Pertanian atas jasanya sebagai penemu dan perintis perkembangan ikan mujair.
Pada era Orde Baru, ikan mujair masih menjadi santapan favorit masyarakat. Sejak 1982, sebagaimana termuat dalam Laporan Pelita IV 1984-1989, program pengembangan aneka ikan dilaksanakan pemerintah dengan menyebarkan bibit ikan mujair dalam kolam pekarangan dan waduk-waduk.(*)
