Nur Hidayah, Kabid Rehabilitasi Sosial Dinkes, PPPA Dan KB Kabupaten Tulungagung / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES
Nur Hidayah, Kabid Rehabilitasi Sosial Dinkes, PPPA Dan KB Kabupaten Tulungagung / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES

TULUNGAGUNG TIMES - Selain ke Unit Layanan Terpadu Perlindungan Sosiial Anak Integratif (ULT PSAI) Pawahikorta juga mendatangi Dinas sosial, PPPA dan KB Kabupaten Tulungagung, Senin (16/09) siang. Ketua Pawahikorta, Agung Purwanto menyatakan siap membantu pihak Dinsos untuk segera membawa korban Melati (16) dan Tari (18) ke Tulungagung bersama keluarganya agar membuat laporan ke kepolisian.

"Kita tadi ke ULT PSAI, datang kesini menyampaikan jika kami siap membantu proses kedatangan korban ke Tulungagung untuk membuat laporan. Pasalnya, masalah ini belum ada perkembangan proses lanjutan," kata Agung.

Bahkan, jika kesulitan menyediakan transportasi, pihak Pawahikorta menyiapkan mobil penjemputan dari tempat tinggal korban di Malang pulang pergi ke Tulungagung. 

"Ini semua kami tawarkan agar proses pelaporan segera dilakukan, karena jika tidak demikian banyak dugaan dan persepsi macam-macam di masyarakat. Pelakunya masih bebas, korbannya usia anak, nanti malah dikira ada yang tidak benar dalam proses ini," terang Agung.

Saat di Dinsos, selain diterima oleh Nurul Hidayah, Kabid Rehabilitasi Sosial juga Narto yang merupakan ketua ULT PSAI Tulungagung yang kebetulan datang dari kegiatan. 

"Memang kita sudah berencana ke orang tua korban di Malang, tapi karena dalam dua hari kedepan padat kegiatan maka belum kita laksanakan," kata Narto.

Pihaknya terus akan melakukan koordinasi bersama dinas sosial agar dapat meyakinkan korban dan orang tuanya untuk datang melapor, namun karena kondisi Melati masih mengalami trauma berat maka PSAI masih mencari waktu yang tepat. 

"Setelah kegiatan yang akan berjalan dua hari kedepan, kita pastikan akan ke Malang melakukan pendekatan agar orang tua korban mau melapor. Kita juga prihatin dengan kejadian tersebut," ujar Nurul Hidayah.

Oleh karena pihak Pawahikorta telah menawarkan bantuan transportasi, dinas sosial menyambut baik inisiatif yang di sampaikan. 

"Iya, beri waktu kami setelah kegiatan ini. Tadi kita sudah ngobrol sama pak Narto, setelah kegiatan di GOR Lembupeteng kita memang berencana ke Malang ke orang tua korban. Memang kasus ini harusnya dilaporkan agar proses hukum berjalan," tandasnya.

Hingga kini, orang yang disebut Pak Uceng yang beralamat di salah satu desa di Kecamatan Sumbergempol tersebut masih bebas berkeliaran dan belum tersentuh hukum.

Sementara, korban yang satunya bernama Tari (initial) juga menghilang. Bahkan, nomor handphone yang biasa dipegang sudah tidak aktif lagi. "Handpone nya (Tari) mati, kasus itu sudah diserahkan PSAI dan Dinsos dan entah mengapa malah di antar pulang," kata Agung Purwanto ketua Pawahikorta saat dikonfirmasi masalah tersebut.

Saat diamankan satpol PP, Melati sedang mendampingi pelanggan menyanyi di room. Gadis bertubuh sintal ini mengaku diajak temannya 'Tari' yang sudah bekerja di cafe ini. Di cafe milik Markini (65) ini Melati sudah bekerja sejak 1 bulan lalu. 

Di cafe ini ada sekitar 4 pemandu lagu, yang kesemuanya berasal dari luar kota. Dari pengakuan Melati, sebulan dia digaji sebesar 1 juta rupiah. Belum lagi tips yang diterimanya dari pelanggan saat mendampingi karaoke di room. 

Room yang ada sebanyak 2. Kondisi room terlihat kumuh dan pengap. Mirisnya saat ditanya oleh Satpol PP, Melati mengaku dipaksa untuk melayani nafsu salah satu pelanggannya.