Tertunduk lesu, terdakwa kasus pencabulan mantan pacar saat menjalani sidang putusan di Pengadilan Negeri Sumenep (Foto: Syaiful Ramadhani / JatimTIMES)
Tertunduk lesu, terdakwa kasus pencabulan mantan pacar saat menjalani sidang putusan di Pengadilan Negeri Sumenep (Foto: Syaiful Ramadhani / JatimTIMES)

Terdakwa kasus pencabulan terhadap mantan pacarnya, Muhdar (25) divonis majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Sumenep, Madura, dengan hukuman penjara 10 tahun. Selain itu, Muhdar juga dikenakan pidana denda sebesar Rp 20 juta.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) PN Sumenep Anisa Novitasari menyatakan, warga Desa Pinggir Papas, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep, ini terbukti bersalah, sebagaimana diatur dan diancam dalam Pasal 81 ayat (2) UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

"Terdakwa dinyatakan bersalah berdasarkan saksi dan bukti-bukti telah melakukan persetubuhan terhadap anak dengan tipu muslihatnya. Jadi, dari hasil sidang putusan tadi menegaskan bahwa terdakwa dijatuhi hukuman 10 tahun penjara dan denda Rp 20 juta atau jika tidak sanggup membayar digantikan kurungan 1 bulan," kata Anisa Novitasari usai persidangan, Rabu (18/9/19).

Anisa Novitasari menjelaskan, putusan majelis hakim sudah dirasa sesuai dengan tuntutan jaksa. Meski diketahui ada sedikit keringanan karena terdakwa dengan korban Melati (bukan nama sebenarnya) melakukan perbuatan keji tersebut atas dasar suka sama suka.

"Putusan yang dibacakan hakim sama seperti tuntutan JPU. Kenapa JPU tidak menuntut 15 tahun penjara, karena unsur pidananya bukan pemaksaan," jelasnya.

Dengan putusan itu, terdakwa hingga kini belum memberikan sikap apakah akan melakukan upaya banding atau tidak. Namun, hakim memberikan batas waktu satu minggu untuk terdakwa menyikapi putusan tersebut. "Masih mau difikir-fikir dulu pak," kata terdakwa pada majelis hakim.

Sekedar diketahui, kasus pencabulan terhadap mantan pacarnya oleh terdakwa Muhdar (25) ini terbilang cukup lamban. Selama penanganan kasus tersebut proses hukum yang ditangani Polres Sumenep dinilai main mata. Sebab, penyidik terkesan lamban untuk menangkap pelaku. Hingga, korban sampai melahirkan anak dari hasil perbuatan keji pelaku.

Peristiwa pencabulan tersebut terjadi pada 2017 lalu, dengan iming-iming akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada korban, terdakwa melancarkan aksinya dengan menyetubuhi korban hingga lima kali. Namun kenyataannya janji itu tak ditepati sehingga berujung pada meja hijau.

Sedangkan pendamping korban dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A dan KB) Sumenep, Nurul Sugiayati menilai putusan hukum 10 tahun yang dijatuhkan pengadilan dirasa belum maksimal. Pasalnya, hingga saat ini belum ada itikad baik dari keluarga terdakwa.

"Saya mewakili keluarga korban bahwa hasil putusan ini belum memuaskan, karena dari sejak kasus ini dibawa ke ranah hukum hingga terbitnya putusan majelis hakim, terdakwa dan keluarganya tidak ada niat baik untuk sekedar meminta maaf," pungkasnya.