Para pemain Drama Kolosal Pemberontakan PETA sedang berlatih.(Foto : Malik Naharul/BlitarTIMES)
Para pemain Drama Kolosal Pemberontakan PETA sedang berlatih.(Foto : Malik Naharul/BlitarTIMES)

Peristiwa pemberontakan PETA di Blitar selalu diperingati dengan mengadakan pentas teatrikal Drama Kolosal Pemberontakan PETA. Dengan membawakan 'Senopati Palagan Kota Blitar', drama kolosal pemberontakan PETA di Blitar ini akan digelar pada hari Kamis, 14 Februari 2020. Dimulai pukul 19.00 di Monumen Peta depan TMP Kota Blitar.

Ketua Panitia, Andika Yudha Narotama mengatakan pentas teatrikal Pemberontakan PETA kali ini akan tampil agak berbeda dari tahun-tahun biasanya. Pasalnya, selain melibatkan sekitar 250 pelajar di Kota Blitar kisah perjuangan heroik tentara PETA akan melibatkan truk TNI Yonif 511, beberapa mobil jeep dan juga cikar sebagai properti pelengkap dalam drama teatrikal tersebut.

"Seperti tahun sebelumnya, kita akan menggelar Drama Kolosal Pemberontakan PETA pada tanggal 14 Februari nanti. Alur cerita kita tetep karena ini kaitannya dengan sejarah perjuangan pemberontakan pasukan PETA di Blitar melawan penjajahan Jepang. Namun yang jelas tahun ini kita tambahkan dari bentuk sajian drama, kita akan menggunakan 2 panggung yaitu, panggung monumen dan juga ruas jalan depan TMP juga akan kita gunakan sebagai panggung, maka jalan juga akan kita tutup," kata Andhika pada BLITARTIMES, (12/2/2020).

Dia menambahkan, ada beberapa ruas jalan yang akan ditutup pada Kamis, 14 Februari 2019 mendatang. Ruas jalan tersebut antara lain, mulai dari sebelah barat yaitu pertigaan lampu merah SPBU Bendogerit Jalan Soedanco Soeprijadi, sebelah timur hingga Kantor Kejaksaan Negeri Blitar dan sebelah utara yaitu Jalan Hasanuddin hingga perempatan Jalan Wr. Supratman Kita Blitar.

"Selain kita gunakan 2 panggung, dan beberapa properti mobil, cikar dan menara pengawas kita juga akan memasang barikade agar penonton bisa menikmati pentas teatrikal tersebut. Untuk panggung VIP kita juga taruh di sebelah timur monumen sehingga kita berharap untuk teater peta tahun ini lebih meriah dan bisa dinikmati," sambungnya.

Menurutnya, setelah menggelar kurang lebih sembilan kali latihan, drama yang diikuti ratusan pelajar dan seniman dari Sanggar Patrialoka ini menuai antusiasme masyarakat yang cukup banyak.

Kisah perjuangan heroik tentara muda PETA dibawah pimpinan Soedanco Soeprijadi melawan kekejaman penjajah Jepang ini diharapkan akan lebih semarak dan bisa dimaknai sebagai pemantik rasa nasionalisme. Meski dalam sejarahnya mereka gagal meraih kemenangan, usaha tentara PETA ini patut menjadi awal perjuangan Kemerdekaan Indonesia.

"Harapan kami bisa menampilkan yang terbaik untuk mengingatkan kembali sejarah perjuangan pemberontakan pasukan PETA di Blitar ini. Menjelang pentas teatrikal kali ini, semoga kita bisa menampilkan yang terbaik bagi seluruh penonton. Dan kami ucapkan terima kasih atas dukungan berbagai pihak yang sudah membatu semua kelancaran acara ini," tuntasnya.(*)

<