Pelaku pencabulan tiga anak di bawah umur yang diamankan petugas. (Ist)
Pelaku pencabulan tiga anak di bawah umur yang diamankan petugas. (Ist)

Slamet Hariadi (33), tukang kuli angkut pasir asal Jalan Bougenville Bawah, Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, yang mencabuli tiga anak di bawah umur disebut menderita kelainan seksual. Yakni  kelainan atau orientasi seks terhadap anak di bawah umur.

Hal itu dibenarkan Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Leonardus Simarmata. Menurut kapolresta, pelaku mengaku nafsunya timbul menjadi besar ketika melihat anak-anak yang menjadi korbannya. 

Karena tak kuat menahan nafsu birahinya, pelaku lantas nekat melakukan aksi cabulnya kepada tiga korban yang merupakan anak tetangganya. Sebut saja Melati (6), Mawar (7), dan Anggrek (8). 

"Pelaku ini tidak bisa menahan nafsunya. Dia melakukannya (pencabulan) lebih kepada ke anak-anak," ungkap kapolresta  yang akrab disapa Leo ini (13/4/2020).

Dalam menjalankan aksinya, pelaku menggunakan modus mengajak korban ke rumahnya. Alasannya agar memijat pelaku. Nantinya pelaku akan memberikan imbalan jika korban mau memijatnya, mulai dari Rp 2.000 hingga Rp 5.000.

Pelaku mengajak para korbannya ketika istri maupun anaknya sedang tidak berada di rumah sehingga rumah pelaku dalam kondisi sepi. Di saat itulah pelaku memanfaatkan situasi tersebut untuk melakukan aksi pencabulan terhadap tiga korbannya. Aksi pelaku dilakukan sekitar Februari 2020.

Aksi pelaku kemudian terbongkar ketika salah satu korbannya sempat bercerita kepada orang tuanya. Setelah mendengar cerita dari anaknya, orang tua korban  langsung mendatangi pelaku dan setelah itu melaporkan kejadian tersebut ke Polresta Malang Kota.

"Pelaku ini punya satu anak. Tapi itu anak bawaan dari istrinya," terang Leo.

Sementara itu, dalam kasus tersebut, pihak kepolisian mengutamakan kondisi tiga korban yang masih di bawah umur. Pihak kepolisian bakal melakukan pendampingan dengan menurunkan psikolog maupun petugas Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) untuk memulihkan psikologi korban.

"Yang bersangkutan kami kenakan Pasal 76E Jo Pasal 82 ayat 1 UU RI No 35 Tahun 2014 perubahan UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak. Ancamannya 5 sampai 15 tahun penjara," pungkas kapolresta.