Bupati Tulungagung Maryoto Birowo dan pintu masuk ke Desa Jabalsari yang dijaga petugas (Foto : Anang Basso / TulungagungTIMES)
Bupati Tulungagung Maryoto Birowo dan pintu masuk ke Desa Jabalsari yang dijaga petugas (Foto : Anang Basso / TulungagungTIMES)

Keluhan warga Desa Jabalsari Kecamatan Sumbergempol Kabupaten Tulungagung yang hingga hari kedua isolasi total belum mendapatkan pasokan makanan mendapat respon Bupati Tulungagung, Maryoto Birowo.

Menurutnya, bantuan sudah disiapkan namun hingga kini, logistik yang berupa sembako belum terkirim lantaran masih menunggu kebutuhan pasti dari total warga.

"Logistik sembako sudah siap semua, pemerintah desa kita minta menghitung kebutuhan semua berapa. Ini kan perkiraan jangka panjang, jadi kemungkinan pendataan kebutuhan ini belum selesai dilakukan pemerintah desa," kata Maryoto saat dikonfirmasi melalui jaringan WhatsApp, Sabtu (25/04) siang.

Pemerintah Kabupaten Tulungagung yakin akan segera mendapatkan laporan dari pemerintah desa tentang daftar kebutuhan yang masih dihitung itu.

"Mungkin pemerintah desa dan petugas di sana masih mengutamakan masalah penanganan atau kesehatan warga. Hingga kini rapid tes masih terus dilakukan, jadi untuk kebutuhan sembako belum bisa segera dilaporkan ke pemerintah daerah sehingga belum dapat segera dikirim," ungkap bupati.

Dengan situasi seperti ini, bupati meminta agar kerjasama antar masyarakat dan pejabat bisa dilaksanakan untuk menyelamatkan warga baik dari dampak Covid-19 dan dampak lain akibat kebijakan karantina Desa Jabalsari tersebut.

Sebelumnya, di hari kedua isolasi atau karantina Desa Jabalsari Kecamatan Sumbergempol Kabupaten Tulungagung akibat Covid-19, mulai dirasakan dampaknya. Selain tak bisa leluasa melakukan aktivitas, warga mulai mengeluhkan keterlambatan kiriman kebutuhan makanan di desanya.

"Ini kami mencari bantuan dari usaha warga sendiri, kami berusaha cari makanan dari luar desa kami, melalui group medsos, group sopir dan berbagai komunitas lain," kata Dwi Rimba (38) pemuda Desa Jabalsari bersama puluhan teman lain di pintu gerbang desa yang digunakan akses keluar masuk.

Hingga saat ini, pemerintah desa Jabalsari belum memberikan bahan pokok sembako sehingga warga terpaksa dengan berbagai cara mencari bantuan.

"Hingga kini tidak ada bantuan dari pemerintah, jika ada bahan makanan masuk itu pembelian warga secara pribadi," ujarnya.

Hal itu juga dibenarkan oleh tokoh pemuda dan masyarakat Dusun Gondangsari yang merupakan episentrum penularan, Zainal Fanani (43) RT 02 03 Desa Jabalsari. Dirinya mengaku heran, dua hari semua akses keluar masuk ditutup namun tak ada langkah bebarengan dari desa dan pemerintah Kabupaten terkait ketersediaan pangan.

"Dapur umumnya dimana dan siapa yang bertugas tidak ada, bahkan di pintu gerbang ini perangkat desa kami juga tidak ada," papar Zainal, Sabtu (25/04) siang.

Pihaknya sudah berusaha menanyakan pada pemerintah desa baik pamong dan kades, namun tetap tidak ada kepastian dan jawaban.

"Tadi sudah kami tanyakan, tapi tidak ada jawaban. Bagaimana kami bisa bertahan dengan kondisi seperti ini," terangnya.

Para pemuda dan warga ini berkumpul di salah satu pintu diantara dua pintu keluar masuk yakni di pintu jurusan kantor Desa Jabalsari.

Mereka tampak terus meminta bantuan pengguna jalan dan menunggu kiriman bantuan dari hasil hubungan seluler dan media sosial.

Beberapa petugas yang terdiri dari personel kepolisian, dua petugas kesehatan berpakaian hazmat atau APD juga setia berjaga di cek point tanpa ada seorangpun petugas atau perangkat Desa Jabalsari yang turut piket di sana.