Kim Jong Un (Foto:  MSN.com)
Kim Jong Un (Foto: MSN.com)

Drama asal Korea Selatan (drakor) menjadi salah satu tontonan favorit di beberapa negara. Salah satunya Indonesia.

Kabarnya di Korea Utara (Korut) pun banyak warganya yang menyukai drama dari Korea Selatan. Padahal, dua negara serumpun itu tetap berseteru hingga kini.

Baca Juga : Empat Kecamatan Ini Picu Kasus Positif Covid-19 di Kabupaten Malang Tembus 468

 

Karena itu, keinginan warga Korea Utara  untuk menonton drama Korea Selatan tidak bisa bebas. Dilansir melalui Nypost, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un melarang warganya untuk menonton drama Korea Selatan.  

Bahkan, ada hukuman berat bagi warga yang ketahuan menonton drama Korea Selatan. Contohnya kasus beredarnya video yang menampilkan penangkapan warga Korut lantaran berbicara dan menulis mengenai Korea Selatan.  

"Menurut suara orang di video itu, 70 persen penduduk di seluruh negeri (Korut) menonton film dan drama Korea (Selatan)," kata seorang penduduk di Provinsi Hamgyong Utara.

Kim Jong Un rupanya sudah merumuskan hukuman bagi warganya yang melanggar aturan. Bahkan, dia akan menanamkan lagi pendidikan ideologis kepada warganya.  

Berdasarkan catatan tahun 2013 lalu, Korut akan mengeksekusi mati mereka yang menyaksikan dan menyelundupkan drama dari Korea Selatan.

Baca Juga : Bandel Tak Pakai Masker, 50 KTP Warga Blitar Disita Satpol PP dalam Sepekan

 

Melalui surat kabar Korsel, JoongAng IIbo, disebutkan sudah ada 80 orang yang dihukum mati pada awal Juli lalu. Saksi mata menuturkan bahwa otoritas setempat mengumpulkan 10 ribu warga di stadion di kota pelabuhan Wonsan untuk menyaksikan eksekusi mati tersebut. Eksekusi dilakukan oleh tim regu penembak.  

Peristiwa itu lantas dibenarkan oleh salah satu warga Korut yang kini membelot ke Korsel. Kebanyakan dari mereka dihukum lantaran kepergok menonton drama Korea Selatan yang dinyatakan ilegal.  

Hukuman tersebut dilakukan lantaran Korut tak ingin warganya terpengaruh pola pikir negara tetangga.  "Rezim jelas-jelas takut akan adanya perubahan dalam pola pikir masyarakat dan untuk mencegahnya mereka berusaha menakuti orang-orang," ucap mereka.