Masjid Hudaibiyah peninggalan Rasulullah SAW. (foto:   Aswaja)
Masjid Hudaibiyah peninggalan Rasulullah SAW. (foto: Aswaja)

Kisah Nabi Muhammad SAW dalam memperjuangan agama Islam selalu menarik dibahas. Salah satunya mengenai masjid asli peninggalan Nabi Muhammad SAW, yakni Masjid Hudaibiyah yang dibangun di lokasi  perundingan yang melahirkan Perjanjian Hudaibiyah kala itu.

Masjid Hudaibiyah ini merupakan salah satu tempat miqat yang berada di kawasan Makkah. Lokasi tersebut menjadi tempat favorit bagi jemaah haji atau umrah.  

Baca Juga : Wisata yang Dikelola Takmir Masjid Sepi, Karena Kabar Penampakan Kuntilanak

 

Masjid Hudaibiyah ini merupakan masjid yang sangat bersejarah bagi Rasulullah SAW.  Lantas seperti apa kondisi masjid tersebut saat ini?  

Zaman dahulu, Masjid Hudaibiyah hanya dibangun dengan bebatuan dan tanah liat. Bangunan masjid tersebut juga tanpa atap layaknya masjid zaman sekarang.  

Kondisi bangunan Masjid Hudaibiyah saat ini terlihat melalui channel YouTube Alman Mulyana.  

Dalam video tersebut diperlihatkan kondisi Masjid Hudaibiyah saat ini.  Terlihat masjid yang tidak terawat hingga di sekitar masjid tersebut sangat kotor.  

Masjid tanpa atap itu kini tersisa puing batu-batuan sisa bangunan.  Yang lebih menyedihkan, tembok masjid yang terbuat dari batu itu dipenuhi tulisan-tulisan orang Indonesia yang berziarah ke masjid tersebut.  Mereka menuliskan nama-nama mereka dan harapan yang diinginkan.  

Selain dari orang Indonesia, juga ada orang Pakistan yang menuliskan di bebatuan menggunakan tulisan Arab Pakistan.  

Aksi vandalisme ini biasanya dipercaya jemaah agar nama keluarga yang ditulis di batu bisa terpanggil ke Tanah Suci Makkah.

 

Masjid Hudaibiyah, Tempat Miqat Sarat Kisah Perjuangan Islam
Foto: Viva

Lantas bagaimana sejarah  Masjid Hudaibiyah? Hudaibiyah erat kaitannya dengan perjuangan Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya saat hendak melakukan ibadah haji dan umrah.  

Saat itu Rasulullah membawa 1.000 rombongan dari Madinah ke Makkah.  Namun, Rasulullah bersama rombongan justru dicegah oleh orang-orang Quraisy.  Orang-orang Quraisy malah menganggap Rasulullah bersama rombongan berniat mengajak perang.  

Kepada utusan Quraisy, Rasulullah menjelaskan tujuan kedatangannya ke Makkah untuk ibadah haji dan umrah. Bukan untuk berperang.  

Namun, pihak Quraisy tak sepenuhnya percaya hingga mereka mengatur siasat untuk mengadang kedatangan Rasulullah bersama pengikutnya ke Makkah. Kisah ini pun diabadikan dalam Al-Quran pada QS Al Fath Ayat 24.  

Baca Juga : Sangat Dekat dengan Masjidil Haram, Benarkah Rumah Abu Jahal Kini Dijadikan Toilet?

 

Rasulullah bahkan mengutus Utsman bin 'Affan untuk melakukan perundingan. Namun kandas. Sampai  akhirnya muncul desas-desus bahwa Usman bin 'Affan telah dibunuh oleh kaum Quraisy secara muslihat.

Rasulullah dan pengikutnya pun merasa gelisah. Untuk menunjukkan rasa solidaritas yang kuat, kaum muslimin saling meletakkan tangannya di atas beberapa pedang yang dibawa untuk keperluan pemotongan binatang kurban.  

Sumpah setia ini dalam sejarah Islam dikenal dengan "Bai'atur Ridwan." Bai;atur Ridwan ini rupanya sampai ke telinga pihak Quraisy dan menggetarkan hati mereka.  

Kaum Quraisy lantas segera mengadakan sidang darurat untuk mencari cara menghadapi ancaman kaum muslimin. Quraisy sejatinya terjatuh mentalnya lantaran masih trauma dengan kekalahan di Perang Badar.  

Usman bin 'Affan pun akhirnya bisa kembali bersama Rasulullah dan rombongan. Sementara pihak Quraisy mengirimkan utusannya untuk melaksanakan perundingan dengan kaum muslimin untuk menghindari kesalahpahaman.  

Kala itu pihak Quraisy diwakili  Suhail Ibnu Umar dan kaum muslimin diwakili  Nabi Muhammad SAW.  Dari perundingan itulah, muncul Perjanjian Hudaibiyah.  Dinamakan Perjanjian Hudaibiyah karena dilaksanakan di daerah Hudaibiyah, di luar Kota Makkah, pada bulan Dzulqa'dah 6 Hijriah.  

Di lokasi perjanjian itulah, didirikan Masjid Hudaibiyah yang menjadi saksi sejarah Perjanjian Hudaibiyah.  

Seiring berjalannya waktu, dibangunlah Masjid Asy-Syumaisi Hudaibiyah yang letaknya ada di sebelah masjid sejarah Perjanjian Hudaibiyah.  

Masjid Asy-Syumaisi Hudaibiyah itu digunakan oleh jamaah haji dan umrah sebagai tempat mengambil miqat.  Luasnya tak lebih dari 1.000 meter persegi.