Kapolres Malang AKBP Hendri Umar saat ditemui oleh awak media di lobi Mapolres Malang, Rabu (2/9/2020) malam.
Kapolres Malang AKBP Hendri Umar saat ditemui oleh awak media di lobi Mapolres Malang, Rabu (2/9/2020) malam.

Video penganiayaan yang dilakukan seorang perempuan kepada anak saat ini viral tersebar di grup-grup Facebook. Salah satunya, di grup Info Malang Raya pada hari Rabu (2/9/2020). 

Kejadian dalam video berdurasi 4 menit 40 detik yang dibagikan oleh akun facebook Nae Ob itu diketahui berlangsung di Malang.

Baca Juga : Pura-Pura Beli Keperluan Bayi, Ibu Muda di Tulungagung Ini Tipu Korban, Begini Modusnya

 

Dalam video yang viral tersebut, tampak jelas ketika seorang perempuan menyabetkan sebuah benda seperti selang air ke tubuh si anak. Hal itu dilakukan karena tampaknya si perempuan emosi ketika memberikan pelajaran berhitung.

Kapolres Malang AKBP Hendri Umar mengungkapkan bahwa pihaknya telah menindaklanjuti peristiwa penganiayaan yang dilakukan oleh perempuan kepada anak berusia 8 tahun tersebut. Menurut Umar, mereka merupakan seorang ibu kandung dari anak yang berasal dari Desa Talok, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. 

"Ini hubungan antar ibu dan anak. Awalnya ibu sedang mengajari anak pelajaran matematika. Proses belajar, berkali-kali, belum bisa memahami pelajaran," ungkapnya ketika ditemui awak media di lobi Polres Malang, Rabu (2/9/2020) malam. 

Saat dalam keadaan emosi itulah, dikatakan Hendri bahwa ibu tersebut akhirnya teriak-teriak disertai dengan membawa sebuah selang yang disabetkan kepada anaknya. Karena kondisi psikis anak yang sudah capek, sehingga tidak dapat menangkap materi yang disampaikan ibunya. 

"Ibu emosi ambil selang dipukulkan ke kaki anak dua kali. Menggigit tangan kanan anaknya. Kesannya jadi lebih besar, si ibu diiringi dengan ngomel-ngomel, teriak-teriak, mengganggu warga sekitar rumah," bebernya. 

Karena lingkungan rumah ibu ini padat penduduk, akhirnya terdapat beberapa orang merekam aksi tersebut. Video itu pun akhirnya diketahui banyak orang ketika diunggah di grup Facebook. 

"Setelah marah-marah ini, ayahnya datang. Menenangkan istri, dan anak. Kalau belum bisa sekarang, diajari lagi. Ini wujud emosi, karena susah diajari," jelasnya. 

Berdasarkan pemeriksaan dari keterangan saksi-saksi yang mengetahui kejadian tersebut, Hendri menyebutkan bahwa telah melakukan pemeriksaan kepada beberapa orang dan juga kepada ibu serta anak yang terlibat dalam video tersebut, juga ayah dari anak tersebut. 

"Langkah berikutnya, langsung pemanggilan dan pertemuan dengan pihak kades dan didampingi dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak (DP3A) dan keluarga," jelasnya. 

Proses pemeriksaan dan meminta keterangan para saksi terus berlanjut. Nantinya, disampaikan oleh Hendri karena ini merupakan kasus ibu kandung dan anak kandung, apakah nanti diselesaikan sesuai aturan hukum yang berlaku atau ada penyelesaian lain.

Lebih jauh Hendri mengimbau kepada seluruh orang tua agar memahami kondisi anak yang memiliki keterbatasan dalam mencerna apa yang disampaikan oleh orang tua. 

Baca Juga : Wajah Maling Terekam CCTV Curi Motor Kreditan Milik Warga Oro-Oro Dowo

 

Apalagi kondisi saat ini sedang dalam masa pandemi Covid-19 yang mengharuskan anak-anak banyak menghabiskan waktu untuk belajar di rumah masing-masing dengan dibimbing oleh orang tua dan saudara anak tersebut. 

"Pasti butuh lebih kesabaran, yang mengajarkan bukan guru formal yang dapat cara mengajar agar anak lebih paham. Intinya orang tua harus lebih banyak bersabar," imbaunya. 

Selain itu, Hendri pun menegaskan bahwa jangan sampai menggunakan kekerasan dalam mengajarkan sesuatu kepada anak. Karena anak saat ini merupakan aset ke depan bangsa Indonesia. 

"Harus dididik dengan baik, jangan traumatis. Membuat mereka trauma dan takut dengan orang tua sendiri, tidak kami harapkan. Kalau dibiarkan berlarut berpengaruh pada mental kejiwaan," ungkapnya. 

Sementara itu untuk anak sendiri, diungkapkan oleh Hendri bahwa dia mengaku masih sayang kepada ibunya. Si anak pun juga menyadari masih sulit untuk segera mencerna apa yang disampaikan oleh ibunya. 

"Nanti kami dalami, apakah teguran atau pidana lanjut. Solusi untuk anak ini harus pertimbangkan best practice, ada alternatif lain," pungkasnya.