Wiropati Gowes Community, komunitas gowes yang peduli kebersihan dan kelestarian situs bersejarah di Mojokerto (Foto: Hery untuk mojokertoTIMES.com)
Wiropati Gowes Community, komunitas gowes yang peduli kebersihan dan kelestarian situs bersejarah di Mojokerto (Foto: Hery untuk mojokertoTIMES.com)

Tren kegiatan olahraga bersepeda (gowes) beberapa bulan terakhir ini terus marak dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat Indonesia. Selain bermanfaat untuk kesehatan tubuh, para pencinta gowes juga dapat mengunjungi tempat-tempat yang menarik.

Komunitas gowes pun terus tumbuh menjamur dan berupaya menunjukkan eksistensinya melalui media sosial. Salah satu komunitas gowes yang menarik perhatian di Kabupaten Mojokerto adalah Wiropati Gowes Community.

Baca Juga : Tips Sehat saat Pandemi Covid-19 Ala Goweser Independen Pamekasan

Komunitas yang eksis sejak tahun 2019 ini tidak hanya gowes ke berbagai situs bersejarah di Bumi Majapahit. Tetapi juga menggelar bakti sosial (baksos) dengan bergotong-royong membersihkan sampah-sampah yang berserakan di sekitar peninggalan bersejarah yang dikunjungi. Beberapa situs bersejarah yang pernah dikunjungi Wiropati Gowes Community di antaranya Candi Brahu, Watu Blorok, Pendopo Agung Trowulan, Petilasan Hayam Wuruk, Arca Agung Mahapatih Gajah Mada di Desa Bumi Mulyo Jati.  

Ketua Wiropati Gowes Community, R. Hery Apriyanto ST., di kediamannya Griya Sooko Asri Kabupaten Mojokerto, Jumat (30/10/2020) menyebutkan, ”Alasan utama dibentuknya komunitas ini adalah turut melestarikan dan peduli dengan cagar budaya peninggalan kerajaan Majapahit khususnya di sekitar Mojokerto. Tujuannya untuk menjaga kesehatan terutama jantung dan bakti sosial dengan menjaga kebersihan area cagar budaya agar tetap lestari”. 

Sembari melakukan gowes, komunitas yang beranggotakan 15 orang rekan sekantor ini juga mengamati kondisi fasilitas umum jalan dan perawatan situs-situs bersejarah yang mereka kunjungi. ”Masih banyak kita temui jalan kabupaten yang berlubang. Masih banyak situs yang kita temui belum terawat dengan maksimal,”ungkap ketua berdarah Kromojayan ini.

Solusinya menurut Hery Apriyanto adalah memberikan masukan, menjaga, dan peduli serta melindungi situs-situs bersejarah sisa-sisa kebesaran warisan leluhur bangsa ini.

Baca Juga : Banyuwangi Matangkan Persiapan Bluefire Ijen Challenge 2020

“Kita mengharapkan ke depan, pihak terkait menjadikan situs-situs peninggalan bersejarah yang ada bisa menjadi obyek wisata unggulan dan berdaya saing melalui kebersihan dan perawatannya yang optimal, baik di Kota maupan Kabupaten Mojokerto,”pungkasnya.