JATIMTIMES - Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia turun menjadi 4,65% pada Mei 2026. Meski terlihat sebagai kabar baik, angka tersebut ternyata menyimpan sejumlah cerita lain soal kondisi pasar kerja di Indonesia.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat TPT Mei 2026 turun 0,03 poin persentase dibandingkan Februari 2026 yang berada di level 4,68%. Jumlah pengangguran juga berkurang sekitar 24 ribu orang menjadi 7,22 juta orang.
Baca Juga : Kaukus Intelektual Nahdlatul Ulama (NU)
Angka TPT tersebut bahkan menjadi yang terendah dalam 32 tahun terakhir. Sebagai pembanding, pada 1994 atau era Presiden Soeharto, TPT Indonesia tercatat sekitar 4,6%.
Namun, pegiat media sosial sekaligus Founder Bardi Smart Home, Ryan Maurice Tallulah (@ryanmtallulah), mengingatkan agar data tersebut tidak hanya dilihat dari satu angka. Melalui unggahan di Instagram, Ryan menyoroti kondisi ini sebagai "satu angka. tiga cerita yang berbeda."
Menurut Ryan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk melihat kondisi ketenagakerjaan Indonesia secara lebih utuh.
Salah satu catatan dalam data terbaru BPS adalah bertambahnya jumlah pekerja formal sekitar 380 ribu orang.
Namun di sisi lain, sektor informal masih mendominasi. Sekitar enam dari 10 pekerja di Indonesia masih bekerja di sektor informal.
Ryan kemudian memberikan kemungkinan mengapa sektor informal masih begitu besar.
"Informal masih lebih banyak dari formal tuh bisa jadi karena setelah kerja dah kumpulin pengalaman dan pergaulan dan pengetahuan atau karena di phk jadi kerja serabutan bantu keluarga atau ojol atau apa gitu" jelas Ryan, dikutip dari Instagram pribadinya, Minggu (30/8/2026).
Artinya, besarnya pekerja informal tidak bisa langsung dibaca sebagai satu kondisi yang sama. Ada pekerja yang memang memilih sektor informal, tetapi ada pula yang masuk ke sektor tersebut setelah kehilangan pekerjaan.
Hal kedua yang disoroti Ryan berkaitan dengan bagaimana status bekerja didefinisikan dalam statistik ketenagakerjaan. BPS menggunakan batas minimal satu jam kerja dalam seminggu untuk mengategorikan seseorang sebagai bekerja.
Sementara itu, data Mei 2026 mencatat ada 38,41 juta orang yang bekerja kurang dari 35 jam dalam seminggu.
Selain itu, terdapat 10,78 juta orang yang masuk kategori setengah pengangguran. Mereka masih aktif mencari pekerjaan atau bersedia menerima pekerjaan tambahan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa turunnya angka pengangguran tidak otomatis berarti semua orang yang sudah bekerja memiliki jam kerja penuh atau pekerjaan dengan kondisi yang ideal.
Baca Juga : AHWA Dipilih untuk Menentukan Ketum PBNU di Muktamar ke-35
Karena itu, kualitas pekerjaan juga menjadi bagian penting dalam membaca data ketenagakerjaan.
Cerita ketiga yang disampaikan Ryan berkaitan dengan peran pemerintah. Sejumlah program yang menggunakan anggaran negara ikut berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja. Salah satunya penyerapan tenaga kerja di tingkat desa.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga melibatkan jutaan orang dalam pelaksanaannya.
Dengan demikian, penurunan pengangguran juga perlu dilihat bersama dengan berbagai program pemerintah yang menggunakan APBN.
Bagi Ryan, persoalannya bukan semata-mata apakah angka pengangguran turun atau naik.
Ada pertanyaan lain yang juga perlu dijawab, yakni pekerjaan seperti apa yang tercipta dan siapa yang mendapatkan pekerjaan tersebut.
Dengan demikia, data BPS memang menunjukkan adanya perbaikan secara statistik. Jumlah pengangguran turun dan TPT mencapai 4,65%.
Namun menurut Ryan, di balik angka tersebut terdapat pekerja formal dan informal, pekerja dengan jam kerja kurang dari 35 jam, hingga kelompok setengah pengangguran. Karena itu, angka TPT perlu dibaca bersama indikator ketenagakerjaan lainnya.
Ryan pun menutup analisanya dengan kalimat singkat, "yang kurang bukan angkanya. tapi pembedanya."
Kalimat tersebut menjadi penekanan bahwa penurunan TPT memang penting, tetapi belum cukup untuk menggambarkan seluruh kondisi pasar kerja Indonesia.
Sebab, di balik angka 4,65% terdapat cerita yang berbeda-beda. Ada yang mendapat pekerjaan formal, ada yang bekerja di sektor informal, ada yang hanya bekerja beberapa jam, dan ada pula yang masih mencari tambahan pekerjaan.
