free web hit counter
Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Harlah 1 Abad NU

Harlah 1 Abad NU 2026: Kilas Balik Sejarah dan Perannya dari Kemerdekaan hingga Mendunia

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Nurlayla Ratri

31 - Jan - 2026, 13:20

Placeholder
Logo Harlah 1 Abad NU. (Foto: Instagram)

JATIMTIMES - Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia, genap berusia 100 tahun hari ini, Sabtu (31/1/2026). Momen ini menjadi penanda perjalanan panjang jam’iyyah NU sejak didirikan pada 1926 hingga kini menjadi kekuatan sosial-keagamaan yang berpengaruh, baik di dalam negeri hingga di panggung internasional.

Perayaan Harlah 1 Abad NU kali ini merupakan yang kedua. Sebelumnya, NU juga menggelar resepsi 1 abad pada 7 Februari 2023 berdasarkan kalender Hijriah, yang berlangsung meriah di Stadion Delta Sidoarjo, Jawa Timur.

Baca Juga : Catat Tanggalnya! Deretan Fenomena Astronomi Februari 2026 yang Sayang Dilewatkan

Saat itu, tema yang diusung adalah “Mendigdayakan Nahdlatul Ulama, Menjemput Abad Kedua Menuju Kebangkitan Baru.” Kini, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali memperingati hari lahir ke-100 versi Masehi dengan semangat besar menyongsong abad kedua.

Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mengatakan, tema peringatan 1 abad NU kali ini adalah “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia.”

Menurut Gus Yahya, tema itu merupakan kelanjutan dari visi besar NU sejak awal berdiri, yakni membangun peradaban yang membawa manfaat luas.

"Oleh sebab itu, PBNU memulai dengan tageline Merawat Jagat Membangun Peradaban karena kita memahami bahwa jamiyyah ini didirikan dengan visi untuk membangun peradaban. Itu berarti bukan hanya untuk bangsa Indonesia saja, bukan hanya untuk kaum mukminin, tapi juga untuk seluruh umat manusia," ucap dia.

NU sendiri memiliki basis massa yang sangat besar. Jumlah anggotanya diperkirakan berkisar 40 juta orang pada 2013 dan bahkan disebut mencapai lebih dari 95 juta pada 2021.

Untuk diketahui, Nahdlatul Ulama didirikan pada 31 Januari 1926 atau 16 Rajab 1344 H di Surabaya, Jawa Timur. Organisasi ini dibentuk oleh KH Hasyim Asy’ari, yang juga dikenal sebagai kakek dari Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Sejarah NU tak lahir begitu saja. Jauh sebelum organisasi ini resmi berdiri, para kiai sudah membangun tradisi diskusi dan gerakan sosial.

Pada 1914, KH Wahab Chasbullah mendirikan kelompok pemikiran bernama Tashwirul Afkar, yang juga disebut Nahdlatul Fikr atau Kebangkitan Pemikiran. Forum ini menjadi ruang pendidikan sosial-politik bagi kalangan santri.

Dua tahun kemudian, pada 1916, para kiai pesantren membentuk organisasi Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) sebagai upaya melawan penjajahan Belanda.

Kemudian pada 1918, lahir pula organisasi Nahdlatul Tujjar atau Kebangkitan Saudagar. Dari rangkaian gerakan itu, muncul gagasan besar untuk menyatukan kekuatan ulama dalam satu wadah yang lebih luas.

Para kiai sempat mendiskusikan nama organisasi dan menghasilkan istilah Nuhudlul Ulama, yang berarti Kebangkitan Ulama.

Namun KH Mas Alwi Abdul Aziz kemudian mengusulkan nama Nahdlatul Ulama, yang akhirnya disepakati bersama.

Pada 31 Januari 1926, NU resmi berdiri dan menjadi salah satu organisasi Islam paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia modern. Peran NU dalam sejarah bangsa paling dikenang melalui perjuangan merebut kemerdekaan dari penjajah.

KH Hasyim Asy’ari dikenal dengan seruan resolusi jihad, yang menegaskan pentingnya mempertahankan tanah air sebagai bagian dari iman. Semboyan "hubbul wathan minal iman" menjadi spirit perjuangan NU dalam menjaga keutuhan bangsa.

Baca Juga : 6 Faktor Harga Emas Bisa Anjlok hingga Rp 1 Juta? Ini Prediksinya

NU kemudian menjadi wadah perlawanan terhadap penjajahan, baik melalui dakwah maupun gerakan nyata.
Laskar-laskar perjuangan fisik lahir dari kalangan ulama NU, santri, serta umat Islam yang siap membela agama dan negara.

NU juga aktif menentang kebijakan kolonial yang menyengsarakan rakyat, termasuk intimidasi terhadap pesantren dan sekolah-sekolah Islam.

KH Hasyim Asy’ari mendirikan Pesantren Tebuireng sebagai lembaga pendidikan sekaligus bentuk perlawanan atas modernisasi penjajah yang memeras rakyat.

Menjelang kemerdekaan Indonesia, putra KH Hasyim Asy’ari sekaligus tokoh NU, KH Abdul Wachid Hasyim, menjadi anggota BPUPKI dan PPKI yang bertugas mempersiapkan kemerdekaan RI.

Keterlibatan NU dalam fase-fase penting sejarah bangsa menunjukkan bahwa perannya tidak hanya keagamaan, tetapi juga kebangsaan.

Akademisi Universitas Brawijaya Rachmat Kriyantono menilai NU memiliki pondasi dalam pembangunan dan kesejahteraan masyarakat karena struktur organisasinya sangat kompleks hingga ke akar rumput.

Namun kini, pengaruh NU tidak berhenti pada level lokal atau nasional. PBNU bahkan mulai memainkan peran lebih luas dalam forum internasional. Pada 2022, NU menggelar forum Religion of Twenty atau R20, yang menandai kiprah global NU.

Ketua PBNU Savic Ali mengatakan bahwa sejak didirikan, NU sebenarnya sudah membawa visi internasional.

”Selama ini umum diyakini pendirian NU karena penguasaan Ibnu Saud atas Haramain (Mekkah dan Madinah). Gus Yahya menarik benang merah historis lebih jauh bahwa pendirian NU berkaitan dengan keruntuhan Turki Utsmani, bukan hanya karena perubahan di Haramain. Sebab, runtuhnya Turki Utsmani menciptakan kevakuman politik dan keagamaan,” katanya.

Savic menegaskan, langkah internasional NU hari ini merupakan kelanjutan dari perjuangan para pemimpin sebelumnya.

Pada era KH Hasyim Muzadi (1999-2010), NU menggelar International Conference of Islamic Scholar (ICIS). Sementara pada masa KH Said Aqil Siroj (2010-2021), NU menyelenggarakan International Summit of the Moderate Islamic Leaders (ISOMIL).


Topik

Peristiwa harlah 1 abad nu harlah nu 2026



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Mojokerto Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Nurlayla Ratri