JATIMTIMES - Pemerintah Iran secara tegas membantah pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengklaim telah terjadi pembicaraan damai antara kedua negara di tengah konflik yang berlangsung sejak 28 Februari 2026. Pernyataan tersebut dinilai tidak sesuai dengan fakta di lapangan dan justru memperkeruh situasi yang masih memanas.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa tidak ada negosiasi langsung dengan Amerika Serikat sejak konflik pecah. Hal ini disampaikan kepada kantor berita resmi IRNA, seperti dilansir Anadolu Agency, Rabu (25/3/2026).
Baca Juga : Ramalan Keuangan Zodiak 25 Maret 2026: Peluang Rezeki Setelah Lebaran, Siapa Paling Beruntung?
Ia mengungkapkan bahwa memang ada pesan yang disampaikan melalui pihak ketiga. “Dalam beberapa hari terakhir, pesan telah disampaikan melalui negara-negara sahabat yang menunjukkan permintaan AS untuk negosiasi guna mengakhiri perang,” ujar Baghaei.
Namun, ia menegaskan Iran tetap berpegang pada prinsipnya. “Iran menanggapi sesuai dengan posisi prinsipnya,” lanjutnya.
Baghaei juga memberikan peringatan keras terkait potensi serangan terhadap fasilitas vital Iran. “Setiap tindakan yang menargetkan infrastruktur vital, khususnya fasilitas energi, akan dihadapi dengan respons yang tegas, segera, dan efektif,” tegasnya.
Ia kembali menegaskan tidak ada dialog langsung dengan Washington. “Tidak ada negosiasi atau dialog apa pun dengan Amerika Serikat dalam 24 hari terakhir sejak perang yang dipaksakan ini dimulai,” katanya.
Selain itu, Iran memastikan sikapnya tidak berubah, termasuk terkait Selat Hormuz dan syarat penghentian konflik.
Sementara itu, Donald Trump justru menyampaikan klaim berbeda. Dalam pernyataannya yang dikutip CNN pada Senin (23/3/2026), ia menyebut telah terjadi pembicaraan yang produktif dengan Iran.
“Saya dengan senang hati melaporkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mengadakan, selama dua hari terakhir, percakapan yang sangat baik dan produktif mengenai penyelesaian lengkap atas permusuhan kita di Timur Tengah,” kata Trump.
Ia juga menyebut hasil komunikasi tersebut memengaruhi keputusan militernya. “Berdasarkan nada dan isi dari percakapan yang konstruktif ini, saya telah menginstruksikan untuk menunda semua serangan militer terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari,” lanjutnya.
Baca Juga : Trump Ancam Iran: 48 Jam Buka Selat Hormuz atau Siap-Siap Listrik Diputus!
Padahal sebelumnya, Trump sempat mengancam akan menyerang pembangkit listrik Iran jika akses di Selat Hormuz tidak dibuka kembali. Bahkan, pada Jumat (20/3), ia mengatakan: “Kita bisa berdialog, tetapi saya tidak ingin melakukan gencatan senjata.”
Di sisi lain, penasihat militer senior Iran, Mohsen Rezaei, menegaskan bahwa konflik belum berakhir.
“Perang akan berlanjut sampai Iran menerima kompensasi penuh atas kerusakan yang dideritanya,” ujarnya dalam pidato yang disiarkan televisi.
Ia juga menegaskan tuntutan Iran terhadap dunia internasional. “Semua sanksi ekonomi harus dicabut, dan jaminan internasional yang mengikat harus diberikan untuk mencegah campur tangan AS,” tambahnya.
Meski sempat menyebut kondisi lapangan mulai mereda, Rezaei menilai ada faktor lain yang membuat konflik terus berlangsung. Ia bahkan menyinggung peran Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam memperpanjang ketegangan.
Dengan situasi yang masih memanas dan kepentingan geopolitik yang besar terutama di kawasan strategis seperti Selat Hormuz konflik ini diperkirakan masih akan terus berlanjut dalam waktu dekat.
